1. Ceramatilah
penggalan cerpen berikut!
Angin kencang menghembus rambutku
seolah berkata, jangan lakukan. Tapi, aku tidak bisa berhenti begitu saja. Aku
sudah siap jatuh ke lubang kematian, kakiku sudah berada di pinggir tebing.
Tiba-tiba terdengar suara yang membuatku ingin menghentikan semua. Aku tidak
bisa, semua orang membuatku tak bisa menahan derita hati ini. Mereka semua
selalu berkata “Cepatlah mati!”
1. Tema yang tepat untuk penggalan cerpen diatas
adalah...
a. Ketegaran c. Kesedihan
b. Keputus-asaan d. Kesakitan
Jawaban : B
2. Cermatilah
penggalan cerpen berikut!
(1) Suatu desa di lereng Gunung
Salak, Jawa Barat, lewat tengah hari. Seorang yang tampangnya menyerupai
pengantar pos, mampir ke rumah lurah. (2) Desa itu hanya sebulan sekali
menerima kiriman pos, itu pun jika ada truk perkebunan yang sukarela mau
mengantarkan surat-surat dari Kantor Pos Bogor ke sana. (3) Dapat dibayangkan
betapa penerimaan pos bagi desa merupakan peristiwa yang sangat penting. (4) Begitu pentingnya hingga lurah selalu
memukul kentong untuk memberitahukan semua penghuni desa bahwa pos datang.
Unsur intrinsik
yang menonjol dalam penggalan cerpen tersebut adalah...
a. Setting c.
Amanat
b. Alur d.
Tema
Jawaban : A
3. Bacalah
kutipan cerpen berikut ini!
Hiroki Sensei sangat terkejut
mendengar perkataan Perdana Menteri.
“Apa? Aku adalah Putra Mahkota?
Tidak mungkin! Jangan bercanda!,”
“Tapi, itu memang benar! Kau pasti
mengenal kalung ini kan’?”
Hiroki Sensei menatap tajam kalung
itu. Ya, dia memang mengenalnya karena itu miliknya. Tiba-tiba, Hiroki
Sensei teringat kata-kata ayahnya.
“Hiroki, aku ini bukan ayah
kandungmu. Kau sebenarnya orang penting di negeri ini, kau harus tetap hidup,
nak!”
3. Jenis alur dalam penggalan cerpen diatas
adalah...
a. Maju c. Maju-Mundur
b. Mundur d.
Mundur-Maju
Jawaban : B
4. Cermatilah
penggalan cerpen “Bodoh” karya Putu Wijaya berikut!
Perusahaan Alung mendadak maju. Uang
membanjir kedalam hidupnya. Ia bersinar dan kukuh. Penghuninya berseri-seri.
Alung sendiri, dengan muka persegi, rambut yang separuh ubanan, tiba-tiba saja
menarik. Seyumnya jadi memikat dan kata-katanya senang didengarkan oleh orang
lain.
“Saya tidak tahu, saya hanya
mencoba-coba saja. Saya tidak punya ilmu apa-apa. Ini hanya nasib baik,” kata
Alung kepada seorang wartawan ketengan yang mencoba mewawancarai-sekaligus
hendak menggaet amplop. Alung sama sekali tidak berusaha untuk membanggakan
dirinya. Ia malah ketakutan karena tak terbiasa dengan uang banyak.
Unsur intrinsik
yang tidak muncul dalam kutipan cerita tersebut adalah...
a. Alur c.
Klimaks
b.. Tokoh d.
Amanat
Jawaban : C
Bacalah kutipan
cerpen berikut kemudian kerjakan soal nomer 5 s.d. 7!
Suatu sore pernah saya kedatangan
tamu yang tak diundang. Waktu itu saya sedang duduk rileks di beranda rumah,
sambil makan roti tawar. Tiba-tiba seorang pengemis lelaki menyodorkan telapak
tangan pada saya. Orangnya kurus kering. Pakaian dekil dan bertambal sana sini.
“Sedekah tuan. Kasihanilah orang tak punya.” Demikian sang pengemis melontarkan
kepada saya.
Mungkin karena saya masih diam dan
bermuka tak damai, kembali si pengemis dengam mimik yang menyakinkan menadahkan
tangan.
“Tolonglah beri makan sedikit saja,
Tuan. Dari kemarin saya belum makan, lapar Tuan...”
Terdorong oleh perasaan kemanusiaan
yang sama-sama punya hak atas hasil bumi nusantara ini, saya berdiri. Lalu
sepotong roti tawar saya comot dari piring. Lantas roti itu saya lemparkan
kepadanya. Pas jatuh di lantai dekat kakinya. Saya kira ia akan cepat-cepat
menerkam roti itu dan dengan rakusnya melumat habis. Sebab, ia lapar bukan? Eh,
tau-taunya si pengemis ini tertegun. Matanya yang tadi sayu, kini menatap saya
tajam. Sambil menyeka keringat kelaparan yang memeleh di keningnya, pengemis
itu berkata dengan sopan kepada saya.
“Maaf, Tuan saya
memang lapar... Tetapi cara Tuan memberi saya tadi mengakibatkan saya kenyang.
Terima kasih, Tuan!” Kemudian ia berlalu.
5. Latar pada
kutipan cerpen tersebut adalah...
a. Pada siang
hari di rumah
b. Siang hari di
depan rumah
c. Sore hari di
beranda rumah
d. Sore hari di
dalam rumah
Jawaban : C
6. Bukti yang
menunjukkan watak tokoh saya angkuh terdapat pada...
a. Paragraf
pertama kalimat kedua
b. Paragraf
pertama kalimat ketiga
c. Paragraf
keempat kalimat pertama
d. Paragraf
keempat kalimat ketiga
Jawaban : D
7. Cara pengarang
menggambarkan watak tokoh saya dalam kutipan cerpen tersebut adalah...
- Pelukisan tindakan c. Dialog antartokoh
- Diceritakan tokoh lain d. Diceritakan pengarang
Jawaban : A
8. Kita sering
melihat ataupun mengalami sebuah peristiwa. Peristiwa yang dimaksud tersebut
dapat terjadi jika memiliki syarat-syarat berikut, kecuali...
- Ada unsur pelaku c. Ada unsur tempat
- Ada unsur waktu d.
Ada penulis skenario
Jawaban : D
9. Setelah
membaca sebuah cerpen, kamu memperoleh tugas menceritakan kembali isi cerpen
tersebut seorang diri secara lisan. Tugas yang kamu peroleh tersebut paling
tepat diwujudkan dalam bentuk...
- Monolog c. Drama
- Dialog d. Fragmen
Jawaban : A
10. ....
Dokter yang kupanggil datang, dan
dia langsung memeriksa suhu badan anak itu.
“Berapa, Dok?” tanyaku.
“Seratus dua.”
Dokter itu meninggalkan tiga macam
obat. Satu untuk menurunkan demam satu untuk membunuh virus influenza dan yang
ketiga untuk menetralkan asam. Dokter itu menerangkan dan menyarankan agar kami
tidak usah cemas, itu flu ringan.
Saya kembali ke kamar anak saya dan
menulis suhu badan anak itu serta
membuat catatan tentang waktu untuk meminum kapsul itu.
“Kamu ingin dibacakan sesuatu?”
“Kalau papa mau.”
.....
Cerpen tersebut
dapat diubah menjadi drama karena didalamnya terdapat komponen...
- Tokoh, watak, dialog, konflik, alur.
- Tokoh, sutradara, dialog, konflik, alur.
- Tokoh, watak, skenario, konflik, alur.
- Tokoh, watak, dialog, tata dekorasi, konflik,
alur.
Jawaban : A
Sangat membantu terimakasih ya...
BalasHapus