Kamis, 13 Februari 2014

Dengarlah Kata Hatiku (My Cerpen)

Ni salah satu cerpenkU, kata-katanya mungkin masih ngalor, ngidul, ngetan balik ngulon, hehehee... Cerpen ini asli buatanku, kalau mirip dengan punya yang lain harap makhlum, soalnya aku juga nggak terlalu banyak baca cerpen orang.  Bisa saja yang sini dengan yang sana idenya sama hehehe... Kalau ada yang mirip boleh unjuk rasa disini, tapi, jangan unjuk rasa di DPR ya... :D


*Dengarlah Kata Hatiku*
Naila tampak senang memainkan boneka Beruangnya. Ia memakaikan baju ballet ke beruangnya itu. Tiba-tiba, kakaknya, Sekar muncul dan langsung merebut boneka itu dari tangan Naila.
“Boneka Beruang ini punyaku!,” kata Sekar membentak.
“Punyaku! Bunda yang memberikannya padaku!,” kata Naila memelas.
“Aku tidak percaya! Pokoknya boneka ini punyaku!,”
Naila dan Sekar bertengkar, secara tidak sengaja, Naila memukul pipi Sekar. Sekar langsung mengadukan hal ini kepada ayahnya.
“Ayah, pipiku dipukul Naila!,”
“Apa? Dimana Naila?,”
“Di halaman belakang, yah!,”
Naila memandangi boneka Beruangnya itu, baju ballet yang melekat robek karena pertengkaran tadi. Tanpa disadari Naila, ayahnya langsung memukul pipi Naila dengan keras.
“Naila, kenapa kamu memukul Sekar?,” kata ayah dengan marah.
“Kakak yang memukulku duluan, yah!,” kata Naila menahan sakit.
“Tidak usah banyak alasan! Sekarang minta maaf kepada kakakmu!,”
Sebenarnya Naila tidak ingin meminta maaf kepada kakanya, tapi karena takut ayahnya akan menghukumnya, terpaksa Naila meminta maaf kepada kakanya.
“Kak Sekar, maafkan aku…”
Sekar tersenyum mengejek, ia dan ayahnya pergi meninggalkan Naila. Dari kejauhan, Bik Jum memandang Naila dengan penuh rasa kasihan. Sudah berkali-kali Naila diperlakukan ayahnya seperti itu. Meskipun Sekar yang salah, Naila-lah yang dihukum. Apalagi ibundanya telah meninggal dunia, tak ada seorangpun yang bisa menyelamatkan Naila.
Naila melangkah perlahan keluar rumah. Itu sudah menjadi kebiasaannya setelah dimarahi. Di jalanan, Naila melihat teman-temannya bahagia bermain bersama ayah mereka. Naila merasa iri dengan mereka, ia tak mengerti kenapa ia bisa berbeda dari yang lainnya. Naila berjalan tanpa arah, ia tak tahu akan kemana. Ia berpapasan dengan seorang wanita muda.
“Adik kecil, kenapa adik sendirian? Tidak ada yang mengajak bermain ya? Kalau begitu, yuk kita main bersama-sama,”
Mata Naila langsung berbinar, seumur-umur baru sekali ia diajak bermain orang dewasa. Tapi kemudian Naila merasa takut, ia takut wanita itu akan menyakitinya seperti nenek sihir di film-film. Rasa takut itu hilang seketika entah kemana. Naila asyik bermain petak umpet dengan wanita itu. Karena sudah sore, permainan pun berakhir.
“Adik pengen pulang?,”
Naila menggelengkan kepalanya
“Lho, kenapa?,”
Air mata Naila menetes deras.
“Aku nggak mau pulang habis ayah jahat sih! Ayah suka memukulku padahal yang salah bukan aku! Ayah hanya sayang kakakku! Aku dibenci ayah! Aku juga benci ayah! Aku nggak pengen pulang, huhuhu…” Naila menangis
Wanita itu kasihan kepada Naila, ia mengelus-elus rambut Naila.
“Adik yang tegar ya, tante juga pernah ngalamin hal ini. Yang sabar ya, suatu saat nanti kamu pasti akan bahagia, sekarang adik pulang ya…”
Naila mengangguk, ia berlari meninggalkan wanita itu. Meskipun wanita itu menyuruhnya pulang, ia tetap tidak ingin pulang. Naila duduk di kursi, perasaan sedih, kesal bercampur menjadi satu. Tiba-tiba hujan turun, Naila bersikeras tidak ingin pulang. Kepala Naila terasa pusing, pandangannya kabur, Naila pingsan seketika.
Ketika Naila membuka matanya, ia berada di kamarnya. Naila tak percaya ketika melihat ayahnya duduk menungguinya.
“Naila sayang, kenapa Naila tidak langsung pulang? Apa ayah sudah jahat padamu? Ayah sangat mencemaskanmu, maaf kalau ayah memukulmu,”
Kata-kata ayahnya membuat Naila semakin tak percaya. Air mata mulai membasahi pipi Naila, ia memegang tangan ayahnya seerat-eratnya. Ternyata ayahnya sangat menyayanginya, malam ini, Naila tertidur pulas.
Terik matahari menyinari sudut-sudut kamar Naila. Naila segera bangun dan berlari keluar kamar. Ia ingin ayahnya bersikap seperti tadi malam. Ketika melihat ayahnya, Naila langsung memanggilnya.
“Ayaaahhhh‼!,” teriak Naila sambil tersenyum.
Tapi, ayahnya sama sekali tak mempedulikannya. Naila terkejut melihat sikap ayahnya, ia sadar bahwa kejadian tadi malam hanyalah mimpi. Naila menangis sejadi-jadinya, kenapa ia begitu percaya pada mimpi?
Hari berganti hari, tahun berganti tahun, waktu terus berlari. Kini Naila sudah kelas 2 SMP. Ia sedang membaca buku sambil menunggu temannya, Nora. Setelah agak lama, tampak Nora berlari-lari kecil kearah Naila.
“Naila, maaf ya aku menunggu lama!,”
“Ya, kenapa lama banget sih?,”
“Hehehe… biasa lah, Mr. Christ…”
“Ohh, kalau Mr. Christ udah ceramah, kutinggal tiduran...”
“Ternyata anak pintar sama saja ya, hmm… nanti kerumahku ya?,”
“Mau ngerjakan PR bareng ya?,”
“Eh, iya, hehehe… PR kali ini sulit banget!,”
“Ah biasa saja!,”
“Yang bener?,”
“Ya, soalnya sekali diterangkan aku langsung mengerti,”
“Hih! Kamu pinter banget dech! Aku jadi gemes sama kamu!,”
“Biasa aja, ah!,”
Mereka berdua berjalan, dari kejauhan tampak gadis yang berdiri sendirian. Nora langsung menepuk bahu Naila.
“Kamu lihat perempuan itu?,”
“Ya, kenapa?,”
“Dia kakak kelas kita, namanya Vania! Dia pernah tertangkap polisi karena menggunakan obat terlarang. Dia juga pernah kepergok sedang mesum dengan pria tak dikenal. Katanya sih dia akan dikeluarkan oleh pihak sekolah,”
“Dia nakal ya, aku saja tidak berani melakukan hal seperti itu!,”
“Aku juga, dia jadi seperti itu karena ayahnya mewariskan perusahaan kepada adik perempuannya yang suka foya-foya!,”
Naila langsung menoleh kearah Vania, didalam hati Naila berkata seharusnya dia tidak melakukan tindakan bodoh seperti itu. Sepulang dari sekolah, Naila menunggu ayahnya di ruang makan, ia ingin mengajak ayahnya makan bersama. Ia merasakan bagaimana rasanya makan bersama seperti yang dilakukan keluarga teman-temannya. Sesaat kemudian, ayahnya pulang, ia berlari keruang tamu.
“Ayah, yuk makan siang bersama!,”
“Maaf Naila, ayah banyak urusan!,”
Sekar pulang kerumah, ia memanggil ayahnya.
“Yah, yuk makan siang diluar, aku menemukan restorant yang bagus!,”
“Baiklah Sekar, tunggu ayah dulu ya…”
Naila merunduk, ia merasa kesal sekali. Ia berteriak sekuat-kuatnya.
“Ayah Jahaaatt‼ Naila benci ayaahhh‼,”
Naila berlari kearah kamar, ia kesal diperlakukan ayahnya seperti itu. Naila mengerjakan soal-soal Matematika, ia bisa melupakan kekesalannya dengan mengerjakan semua soal. Naila teringat janjinya kepada Nora, ia berganti pakaian dan pergi kerumah Nora.
Sampai disana, Naila disambut baik oleh orangtua Nora. Ternyata keluarga itu sedang mendiskusikan tempat untuk wisata besok Minggu. Suasana diskusi makin seru, tiba-tiba perasaan Naila menjadi sakit dan sedih. Ia tak pernah merasakan serunya berdiskusi bersama ayah dan kak Sekar.
“Nora, aku pulang dulu ya…”
“Tapi PR-nya belum!,”
“Lain kali saja, Nora! Aku masih ada kerjaan lain!,”
“Apa kamu merasa tersinggung dengan kami?,”
“Tidak, Nora. Kalaupun kujelaskan, kau tak akan mengerti!,”
Naila langsung berlari meninggalkan Nora, perasaaannya campur aduk. Air matanya kembali menetes, ia harus tegar. Saat Naila berjalan, tiba-tiba ada yang menyekapnya dari belakang. Seketika Naila langsung pingsan, ia tidak tahu apa yang akan terjadi. Naila membuka matanya, ia berada di tempat yang sempit dan gelap.
Ia melihat dua pria dan satu wanita berdiri didepannya.
“Hai anak manis, sekarang telepon orangtuamu! Katakan seperti yang tertulis dikertas ini! Kalau tidak, kamu akan mati!,” kata wanita itu dengan kasar.
Naila langsung menelan air liurnya, ia diculik! Naila tidak yakin ayahnya akan menyelamatkannya.
“Bolehkah aku mengatakan kata-kata terakhir jika orangtuaku tak mengirim uang tebusan?,” tanya Naila.
“Boleh, silahkan! Kalau orangtuamu tidak menyelamatkanmu, kau akan kami jual!,” jawab wanita tersenyum sadis.
Mereka langsung menelpon ayah Naila dengan handphone Naila. Sudah tiga kali ditelpon, tapi selalu ditolak. Para penculik itu merasa kesal, mereka menelpon lagi dan kali ini diangkat.
“Ayah! Tolong, yah! Tolongin Naila! Kalau tidak segera ditolong, Naila akan dijual!,” kata Naila sambil membaca tulisan dikertas itu.
“Hahahaha… sekarang putri anda ada ditangan kami! Jika anda tidak mengirim uang 10 juta, saya akan menjual putri anda! Jika anda tidak ingin, dengarkan kata terakhir putri anda! Ingat jangan lapor polisi, kalau anda melaporkan ini kepolisi, putri anda akan kami bunuh!,”
“Ayah, kalau ayah tidak ingin menyelamatkan Naila, Naila tidak akan apa-apa. Naila akan tegar, ayah, Naila sayang ayah…”
Setelah mendengar kata-kata Naila, ayah Naila hanya diam seribu bahasa. Sesaat kemudian telepon ditutup. Naila tidak yakin ayahnya akan menolong, ia pasrah pada takdir. Tiba-tiba terdengar suara gaduh dari luar dan pintu pun terbuka.
Ternyata ayah Naila yang membuka pintu ruangan ini. Ayah Naila langsung melepas tali yang mengikat Naila. Naila memeluk ayahnya, ia berharap ini bukanlah mimpi, ia berharap ayahnya benar-benar menyayanginya.
Sesaat kemudian, terdengar suara sirine polisi, para penculik pun ditangkap. Saat keluar dari ruangan ini, Naila melihat kak Sekar. Ia memandangnya dengan mata berkaca-kaca, kemudian ia berlari kearah Naila dan memeluknya. Mulai saat ini merek akan memulai kehidupan seperti keluarga yang lainnya. Betapa senangnya hati Naila, seandainya kejadian ini tak terjadi, mungkin tak akan seperti ini.
*TAMAT*

Kalau pengen koment silahkan! Tapi harus punya akun Google dulu, hehehe... salam buat semuanya!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar