Pati, 22 Januari 2014
Salam rindu,
Bumiku tempatku hidup, bagaimana kabarmu? Apakah baik-baik saja? Aku disini dalam keadaan yang baik. Masih bisa berdiri diatasmu, masih bisa menghirup udara segarmu, masih bisa merasakan hangatnya sang mentari.
Bumiku, aku dengar kabar buruk tentangmu. Katanya, kau membuat banjir bandang di Manado, katanya, kau membuat Ibukota banjir, katanya, kau mebuat Gunung Sinabung murka. Apa yang sebenarnya ada dihatimu, bumiku? Mengapa kau begitu sadis? Apa salah kami semua?
Ya, bumiku tercinta, aku mulai menyadari kesalahan ini. Hutan-hutan permata luas nan hijau, kini mulai gundul. Emas, Perak dan Baja yang ada diperutmu, dirampas. Sungai-sungai sejernih gelas-gelas kaca, kini hanya mimpi belaka. Surga yang selalu diceritakan orang, mulai menjadi neraka.
Bumiku, orangtuaku pernah bercerita, dahulu, udara begitu sejuk. Tapi kini, hanya udara panas dan asap-asap nakal yang kurasakan.
Bumiku, kini aku mengerti, kemarahanmu, kesadisanmu itu... karena kelalaian kami semua. Membuang sampah sembarangan, menutup tanah dengan gedung-gedung pencakar langit, melakukan illegal logging.
Bumiku, kami merasa bersalah padamu. Kami menyesal telah lalai pada lingkungan kami. Kumohon, maafkanlah kelalaian kami, bumiku! ku mohon, jangan marah-marah lagi...
Cukup sekian surat dariku bumi, kuharap kau baik-baik saja dan kembali hijau seperti dulu... Sampai jumpa lagi...
Dari sahabat baikmu,
Mirala
Tidak ada komentar:
Posting Komentar